Cari Duit Itu Susah

Saat anggaran rumah tangga sudah disusun dengan rapi, masing-masing pos sudah dijatah alokasi dananya, tapi ada saja tambahan-tambahan di luar rencana. Apalagi kalau terkait sama anak. Maklum lah, namanya anak kecil, kadang taunya minta jajaaaan aja, gak mau tau kan uangnya dari mana atau jatahnya berapa.

Kalau dalam kondisi tenang sih, kita sebagai orangtua bisa menasehati anak dengan baik. Tapi dalam kondisi yang tidak tenang. Orangtua sedang sibuk, stress, terburu-buru atau repot dengan urusan ini itu. Yang niatnya menasehati malah jadinya mengomeli anak;

“Jangan jajan melulu, cari duit itu susah tau!”

Kira-kira, apa yang tertanam dalam benak anak-anak kita jika orangtuanya seringkali bahkan berulang-ulang mengucapkan kalimat tadi? Atau dengan kalimat sejenis itu.

Yang jelas, karena kalimat di atas keluar dari lisan orangtuanya yang sangat ia percayai dan kalimat itu diucapkan berulang kali, maka ia akan berfikir bahwa itu benar.

Anak memang akan berfikir seharusnya ia tidak terlalu sering jajan. Tapi apakah ia akan mengurangi keinginannya untuk jajan? Tergantung dari pengendalian dirinya dan banyak hal lainnya. Iya sih….. tapi…. Mungkin akan sering berulang juga di kepalanya.

Begitu juga anak berfikir bahwa kalimat kedua dari orangtuanya juga benar. Bahwa cari uang itu susah. Sampai dewasa pun ia akan menggap kalimat ini benar karena datang dari orangtuanya sendiri dan diucapkan secara berulang kali.

Lalu apa akibatnya kalau dalam pemahaman dasarnya ia meyakini bahwa “cari duit itu susah”? Kalau cari duit itu susah, apakah kita akan berusaha kerja keras atau malah mundur duluan? Ah, ngapain juga kerja keras, toh cari duit bagaimana pun juga susah kok dapatnya.

Maka berhati-hatilah dengan nasihat yang kita berikan kepada anak-anak, apalagi nasehat cepat (baca: omelan) yang secara spontan diucapkan. Kita perlu memperbaiki dulu nilai atau norma yang kita yakini, karena bagaimanapun juga, ia akan menular pada anak-anak kita nantinya.

Dan nilai yang ia yakini, akan menjadi dasarnya dalam bertindak dan merespon pada kenyataan. Maka pilihlah keyakinan dan nilai yang membangun dan hindari keyakinan dan nilai yang negatif.

MEA Datang, Mae Pergi

Dari akhir 2015 sampai awal 2016, MEA menjadi topik dikusi yang banyak dibicarakan. Tapi sayangnya, hampir semua bicara secara defensif, “apakah kita sdh siap?”

Banyak yang mengkhawatirkan pasar Indonesia yang besar dicaplok asing, ada PRT dari Filipina, tenaga ahli dari Singapura, pekerja dari Thailand, instruktur dari Malaysia, dan lain sebagainya.

Kenapa kita tidak bicara strategi offensif menghadapi MEA, “peluang di negara mana yg bisa kita ambil?”. Tentu saja dengan mengirimkan tenaga kerja terlatih atau ahli untuk bekerja di luar negeri. Tidak lagi mengirim tenaga kerja di sektor informal yang selama ini terjadi.

Ayo, kita bantu Maesaroh, Maemunah, Maelisa, Maelawati, Maelani dan ratusan pemuda-pemudi Indonesia untuk pergi ke luar negeri. Bukan untuk menjadi PRT lagi. Tapi untuk menjadi tenaga kerja terlatih sambil mereka kuliah dan menimba ilmu di luar negeri. Agar bisa kembali menjadi pelopor pembangunan di daerahnya masing-masing.

Mau tau bagaimana caranya membantu mereka?

Klik di sini untuk cara mudahnya https://kitabisa.com/diasporagozali

Image HSBC

Memandang Ekonomi Indonesia & ASEAN dari Kacamata HSBC

 

Dengan diberlakukannya perjanjian perdagangan di wilayah ASEAN atau MEA, maka sangat penting untuk memahami bagaimana kondisi ekonomi Indonesia dan negara ASEAN lainnya. Saya menemukan artikel menarik yang dirilis oleh HSBC di http://www.hsbc.com/news-and-insight/2015/southeast-asias-new-consumers bahwa dalam 5 tahun ke depan, atau di tahun 2020 nanti, setengah dari populasi di negara-negara ASEAN berada di usia di bawah 30 tahun.

Ini artinya, lebih dari setengah dari penduduk ASEAN berada pada usia produktif. Di satu sisi, ini adalah peluang besar dimana tersedia banyak tenaga produktif, dan angka ketergantungan penduduk yang tidak produktif menjadi sangat kecil. Tapi di sisi lain ada juga tantangan yaitu apakah cukup tersedia lapangan kerja bagi angkatan kerja yang sangat besar ini. Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN juga akan mengalami bonus demografi yang sama, bahkan 70% dari penduduk Indonesia di tahun 2020 – 2030 akan berada pada usia produktif 15 – 64 tahun.

Ekonomi ASEAN yang dulunya mengandalkan ekspor dan manufaktur, nantinya akan menjadi lebih banyak didorong oleh konsumsi karena meningkatnya kelas menengah di ASEAN. Walaupun populasi ASEAN 600 juta orang, atau hanya setengahnya dari populasi negara India, namun PDB Wilayah ASEAN lebih besar dari India dan terus bertumbuh rata-rata 6% per tahun sampai 2020 dengan total PDB mencapai 4,7 Trilyun USD.

Dalam 5 tahun ke depan, setengah dari kelas menengah di dunia tinggal di wilayah Asia dan akan menyumbang tambahan angka konsumsi senilai 2 trilyun USD. Peningkatan kelas menengah ini akan memegang peran besar dalam peningkatan ekonomi ASEAN dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan bertumbuhnya daya beli kalangan menengah, maka meningkat pula dorongan untuk konsumsi, utamanya dalam bentuk properti, kendaraan, pendidikan dan kesehatan. Dan seiring dengan bertambahnya kelompok usia ini, dibutuhkan pula dana pensiun, dana kesehatan, perlindugan asuransi, ditengah masih lemahnya sistem jaminan sosial dari pemerintah.

Yang menarik adalah pola konsumsi yang berbeda di beberapa negara. Di negara yang masih berkembang, kenaikan penghasilan akan dialokasikan lebih banyak untuk peningkatan standar hidup, sementara yang berada di negara yang sudah maju akan meningkatkan pengeluaran untuk konsumsi dan investasi.

Contohnya di Singapura, Malaysia dan Thailand yang sudah lebih maju, peningkatan penghasilan akan lebih banyak dialokasikan untuk investasi dan konsumsi. Beda halnya dengan Indonesia dan Filipina yang akan lebih banyak alokasikan pertumbuhan penghasilan untuk membeli kendaraan, perlengkapan rumah tangga, dan sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidup. Yang menarik adalah Vietnam yang ternyata memiliki tingkat kepemilikan kartu kredit yang paling tinggi diantara negara ASEAN lainnya dan kelas menengah di sana baru mulai mengembangkan selera mereka terhadap barang-barang mewah.

Kekayaan di ASEAN berkembang bahkan lebih cepat dibandingkan dengan Tiongkok dalam 5 tahun ke depan. Hal ini akan mendorong perkembangan di pasar keuangan dan punya potensi untuk mengubah pilihan saving dan investasi.

ASEAN adalah salah satu wilayah dengan saving rate paling tinggi dunia, tapi sayangnya, saat ini aset finansial lebih banyak ditempatkan dalam bentuk cash dan di beberapa negara terkonsentrasi pada investasi saham. Studi menunjukkan bahwa penciptaan kekayaan baru akan mengubah pola investasi. Ini artinya ASEAN akan mengalami juga perubahan dari yang tadinya terkonsentrasi pada cash atau saham, menjadi lebih terdiversifikasi.

Sementara negara-negara ASEAN yang akan menjadi mitra perdagangan penting bagi Indonesia adalah Singapura dan Malaysia. Menurut analisa HSBC yang disampaikan di https://globalconnections.hsbc.com/global/en/tools-data/trade-forecasts/id negara sasaran terbesar ekspor Indonesia dalam 15 tahun ke depan adalah Tiongkok, India, Jepang, Singapuran dan Malaysia. Dan masih menurut analisa yang sama dari para analis di HSBC, impor Indonesia pun akan banyak berasal dari Singapura sebagai negara kedua setelah Cina, dan Malaysia di posisi ke empat di atas Jepang dan di bawah Korea.

Asuransi Melawan Takdir?

Obrolan ringan selepas dzuhur di mesjid sebelah kantor….

A: Gak mau ah ikut asuransi. Ikut asuransi itu melanggar takdir tau!

B: Maksudnya melanggar takdir gimana?

A: Ngapain juga asuransi-asuransi segala. Kalau emang udah takdirnya meninggal ya meninggal aja. Jaman dulu juga gak ada asuransi.

B: Lah, emang lu pikir dengan ikut asuransi orang gak jadi meninggal apa. Meninggal sih meninggal aja. Asuransi kan bukan buat orang yang meninggal, tapi buat orang yang ditinggal. Biar ada santunan yang gantiin nafkah kalo kita-kita ini meninggal.

A: Kalau kita meninggal, kan itu udah takdir. Masalah keluarga kita kaya gimana setelah ditinggal juga udah ada takdirnya.

B: Hari ini kita udah tahu takdir kemarin. Kalau besok kita belum tahu, makanya Allah suruh kita berusaha, bukan nungguin takdir.

A: Tapi kalo kita ikut asuransi, itu sama aja kita bergantung pada manusia. Gak tawakal. Rezeki itu datangnya dari Allah, bukan dari asuransi. Lagian rezeki kan sudah dijamin sama Allah, termasuk rezeki istri & anak-anak kita walaupun kita sudah meninggal.

B: Bener banget, rezeki datangnya dari Allah dan sudah dijamin. Yuk, kita ngaji aja ampe sore di mesjid, jam 5 baru deh kita pulang.

A: Gila lu, gue kan mesti kerja. Masa bolos setengah hari, bisa diomelin bos gue nanti.

B: Ah, takut amat sih lu sama bos. Emang rezeki lu datangnya dari Allah apa dari si bos?

A: (mikir sebentar) Eeee…. Rezeki gue datengnya dari Allah, ….melalui perusahaan gue, …. yang dipimpin oleh bos gue…

B: Lu bergantung sama manusia dong?

A: Nggak lah. Rezekinya tetap dari Allah, nah gue usahain dengan cara kerja. Kan gak mungkin rezeki turun gitu aja dari langit, mesti dijemput.

B: Nah, bukannya asuransi juga sama aja tuh. Usaha untuk mendapatkan rezeki dari Allah melalui kontrak saling sepenanggungan dengan perusahaan asuransi dan sesama peserta asuransi yang lainnya. Gak melanggar takdir kan? Rezekinya jelas dari Allah, kita usahakan dengan cara berasuransi. Karena rezeki gak turun dari langit begitu aja kaaann…?

5 Hal Yang Harus Dilakukan Pengantin Baru dalam Mengelola Keuangan

Dalam kultur masyarakat Indonesia, pernikahan adalah titik awal seseorang harus bisa mandiri secara finansial. Jika belum menikah, masih bisa sesekali minta bantuan orangtua, walaupun sudah punya penghasilan sendiri. Saat belum menikah, tinggal bersama orangtua selama puluhan tahun pun hampir tak pernah minta izin menumpang di rumah orangtua.

Tapi begitu sudah menikah, segalanya menjadi berubah. Mau tinggal di rumah orangtua, diawali dengan permisi lebih dahulu. Butuh bantuan keuangan pun statusnya bukan lagi minta, tapi pinjam. Karena kalau sudah menikah, secara keuangan diharapkan sudah independen. Sudah mandiri dan menjadi entitas keuangan sendiri.

Lalu apa saja yang harus dilakukan pasangan baru menikah agar keuangannya tidak berantakan dan bisa mandiri secara keuangan?

5 hal yang harus dilakukan pengantin baru:

  1. Miliki visi dan mimpi bersama

    Mengarungi bahtera kehidupan bersama, tentu harus sepakat kemana layar mengarah. Visi dan impian bersama perlu dibangun sejak awal agar bisa menentukan strategi keuangan untuk mencapainya. Beda visi, beda strategi. Beda impian, bed acara untuk mewujudkannya.

    Misalnya saja pandangan tentang mobilitas dan kemapanan. Seoarang suami biasanya lebih mementingkan mobilitas daripada kemapanan. Sebaliknya seoarang istri merasa kemapanan itu lebih prioritas dibandingkan dengan mobilitas. Itulah kenapa suami lebih merasa perlu beli kendaraan dulu sebelum beli rumah. Sedangkan istri merasa ingin memiliki rumah dulu sebelum kendaraan. Ini bukan masalah benar atau salah, tapi perlu kesepakatan bersama untuk menilai mana yang lebih prioritas dibandingkan dengan yang lainnya.

    Begitu juga pandangan mengenai pendidikan anak, perlu disepakati seperti apa pola pendidikan dan pengasuhan anak yang ideal. Karena hal ini akan sangat mempengaruhi keuangan keluarga. Sepakati juga siapa yang mencari nafkah, bagaimana mengatur tanggungjawab dan delegasi tugas dalam rumah tangga terkait dengan keuangan.

    Buatlah peta kehidupan, kapan ingin beli rumah, punya anak, beli kendaraan, naik haji, pensiun, buka usaha, pendidikan anak, dan lain sebagainya. Dari sini baru kita bisa membuat rencana keuangannya.

     

  2. Sepakati tujuan keuangan bersama

    Setelah visi dan impian disepakati, buat lebih detail lagi dalam bentuk tujuan keuangan. Punya anak yang pintar dan soleh, itu visi. Tujuan keuangan untuk mewujudkan visi itu adalah punya biaya pendidikan dari TK, SD sampai Kuliah di sekolah swasta Islami dengan standar sekian juta rupiah. Tujuan keuangan itu harus jelas untuk apa, berapa dan kapan.

    Menyempurnakan Islam dengan berhaji adalah visi. Tujuan keuangannya adalah memiliki ongkos naik haji berdua suami dan istri, dengan ONH Plus atau Reguler senilai sekian juta rupiah agar bisa berangkat dalam waktu sekian tahun lagi.

    Susun tujuan keuangan ini bersama-sama, dan buat prioritasnya. Mana yang lebih penting dibanding yang lainnya. Mana yang harus dicapai lebih awal, mana yang harus didahulukan jika dananya pas-pasan.

     

  3. Konsolidasi cashflow

    Sebelum menikah, masing-masing punya pola penghasilan dan pengeluaran sendiri. Begitu menikah, tentu hal ini harus dikonsolidasikan. Apakah akan menggabungkan penghasilan atau tidak. Pengeluaran apa yang bisa digabung dan mana yang menjadi tanggungjawab masing-masing. Kebiasaan keuangan seperti apa yang perlu diketahui pasangannya, sebaiknya juga dibicarakan agar efektif dalam mengatur keuangan.

  4. Evaluasi keperluan asuransi

     

    Setelah menikah, profil risiko seseorang pun berubah, maka perlu evaluasi kembali keperluan asuransi agar bisa mengelola risiko dengan lebih terencana. Sebagai seorang lajang yang tidak memiliki tanggungan nafkah, boleh saja tidak punya asuransi jiwa. Toh meninggal dunia sekalipun, tidak ada yang terkena dampaknya secara finansial.

     

    Tapi begitu menikah, tentu tanggungan nafkah berubah. Nafkah istri menjadi tanggungjawab suami, apalagi jika sudah punya anak, maka beban tanggungjawabnya juga terhadap nafkah anak. maka ketika sudah menikah, perlu dhitung ulang, berapa uang pertanggungan yang diperlukan untuk asuransi jiwa. Begitu juga saat punya anak, perlu dievaluasi lagi kebutuhan asuransinya.

     

  5. Start small for big impact

    Terkadang banyak pasangan muda yang belum merasa perlu mengatur keuangannya sekarang karena penghasilannya belum seberapa, usianya masih muda, dan beragam alasan lainnya. Padahal justru hal-hal besar itu dibangun dari hal-hal kecil yang konsisten kita lakukan dalam jangka panjang.

    Misalnya saja melatih anak untuk menggunakan toilet sejak usia dini agar tidak ketergantungan menggunakan popok sekali pakai, dampaknya bisa 500rb sampai 1jt per bulan. Penghematan satu tahun bebas popok bisa berarti 6jt sampai 12jt yang jika diinvestasikan bisa menjadi 60jt – 100jt saat si anak masuk kuliah.

    Contoh lainnya mengurangi makan di luar bisa berhemat 500rb per bulannya, jika dikumpulkan dalam waktu 2-3 tahun sudah bisa menjadi sepeda motor atau uang muka untuk mobil. Jangan lihat angkanya kecil tapi bayangkan jika kebiasaan kecil itu bisa berdampak besar dalam jangka panjang. Bukan hanya pada penghematan biaya dan surplus untuk investasi, tapi lebih penting lagi adalah membentuk kebiasaan baik dalam jangka panjang.

 

Selain itu untuk pengantin baru, tips di atas juga bisa digunakan oleh pengantin lama tapi baru mau mulai sekarang mengelola keuangannya dengan lebih baik.

Uang memang bukan factor utama yang membangun kebahagiaan dalam keluarga. Tapi uang bisa menjadi factor utama yang menjadi sebab masalah dalam keluarga. Yuk, bangun ketahanan keuangan keluarga dari sekarang.

 

Ahmad Gozali

Penulis buku laris “Habiskan Saja Gajimu”.

www.gozali.ID

twitter.com/AhmadGozali

facebook.com/Ahmad.Gozali

 

Persiapan Keuangan Menuju Pelaminan

 

“Aisyahnya sih ada, tapi maisyahnya belum” adalah alasan klasik yang sering diungkapkan para bujang ketika ditanya tentang rencana pernikahannya. Bayangan besarnya biaya resepsi sering bikin ciut mereka yang sudah siap menikah. Padahal yang namanya biaya resepsi masih bisa negosiasi bahkan patungan. Justru yang prioritas adalah biaya hidup sesudah menikah, harus bisa mandiri menghidupi sang bidadari. Kalau sudah mampu hidup layak bersanding dengan permaisuri hati, maka sudah saatnya menyegerakan pernikahan, jangan ditunda lagi.

Nah sekarang tidak ada salahnya kita buat hitung-hitungan, apa saja dan seberapa besar biaya resepsi yang diperlukan untuk merayakan pernikahan.

Biaya yang harus diperhitungan pertama adalah biaya konsumsi. Menurut konsultan wedding organizer, ini adalah pos paling besar dalam resepsi pernikahan. Bisa mencapai 50% dari total anggaran. Kalau sudah bisa menghitung biaya ini, maka kita bisa perkiraan total biayanya dengan mudah.

Misalnya untuk resepsi yang diadakan di rumah, diperkirakan biaya untuk konsumsi sebesar Rp25jt, maka total biayanya berkisar Rp50juta. Ingat ya, angka ini Cuma contoh saja. Pada kenyataannya, sangat tergantung dari daerah, kultur, dan jumlah undangannya.

Jika diadakan di gedung, menghitungnya bisa jauh lebih mudah lagi. Biaya konsumsi adalah harga katering per porsi dikali 85% x 2 x jumlah undangan. 85% adalah tingkat kehadiran undangan, kita asumsikan saja undangan yang hadir 85% dan dikali 2 karena biasanya undangan itu untuk pasangan suami-istri. Kalau mau memperkirakan total biaya, dikalikan lagi dengan angka 2.

Selain biaya resepsi, biaya yang seringkali besar dan tidak terduga adalah untuk pengadaan seragam keluarga. Jangan sepelekan urusan ini ya, karena biaya ini sering membengkak karena perasaan tidak enak. Yang awalnya direncanakan hanya keluarga inti yang pakai seragam, bisa jadi 10 orang ditambah keluarga besar. Bahkan bisa menjadi puluhan setel seragam karena kalau satu sepupu dihitung, kasian sepupu yang lain. Satu saudara di hitung, merasa tidak enak dengan saudara yang lain. Dan jangan lupa, khusus untuk perempuan, kadang biayanya masih ditambah lagi dengan biaya make-up yang dihitung per kepala oleh pihak salon.

Biaya yang relatif biasanya tidak terlalu besar, tapi justru paling utama adalah untuk mahar. Khusus untuk biaya mahar, sebaiknya dari kantong sang calon suami sendiri. Karena mahar ini adalah pemberian khusus untuk menghalalkan sang pujaan hati, maka sebaiknya ditanya dulu apa maunya, dan diusahakan dari kantong pribadi.

Secara umum, biaya resepsi kita bagi 3. Biaya yang pasti ada, biaya pilihan, dan biaya yang bisa dinihilkan. Biaya yang pasti ada adalah untuk konsumsi, dekorasi & pelaminan, mahar, dan administrasi KUA. Biaya pilihan seperti sewa gedung, fotografi, sewa alat hiburan, transportasi dan akomodasi. Sedangkan biaya yang ketiga kadang dibayar tunai, tapi kadang juga bisa dinihilkan atau digratiskan karena menggunakan jasa teman atau saudara seperti MC, khutbah nikah dan hiburan.

Ingat, tujuan mengadakan resepsi pernikahan adalah sebagai sarana untuk memperkenalkan para pengantin, dan sebagai wujud syukur atas terselenggaranya pernikahan. Selama niat ini dijaga, insya Allah biayanya menjadi mudah karena menikah adalah salah satu sebab dibukanya pintu rezeki.

Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

 

Jika orang tua ingin menyiapkan dana pendidikan untuk anak, apa yang pertama kali terfikir? Rata-rata orang tua sekarang akan berfikir “asuransi” sebagai kata pertama yang difikirkan ketika membahas dana pendidikan untuk anak-anaknya. Karena yang asuransi menjadi top of mind saat menyiapkan dana pendidikan untuk anak, yang kemudian dilakukan adalah menghubungi agen asuransi.

Lalu apa yang dilakukan agen asuransi? Bertanya bisa bayar premi berapa per bulannya? Dibuatkanlah polis asuransi sesuai dengan kemampuan kita membayar polis per bulan. Dan pada saatnya anak memerlukan dana untuk pendidikannya, apakah dananya cukup memadai? Tak jelas, karena tidak betul-betul diperhitungkan dengan baik.

Jangan salahkan agen asuransinya atau produknya, tapi kita harus memperbaiki urutan logika dalam menyiapkan dana pendidikan anak.

Apa yang sebetulnya anak perlukan untuk pendidikannya? Asuransi atau dana pendidikan? Benar sekali, yang anak perlukan adalah “dana pendidikan”, dana untuk membiayai pendidikannya, bukan asuransinya. Jadi asuransinya gak perlu? Eit, tunggu dulu. Yuk kita bahas lebih detail lagi.

Pendidikan pasti memerlukan biaya, yang seharusnya kita siapkan adalah biaya yang diperlukan oleh anak-anak kita saat diperlukan kelak. Untuk itu, langkah pertama dalam merencanakan dana pendidikan anak adalah dengan membuat rencana pendidikannya terlebih dahulu.

Anak mau sekolah dimana dan kapan, dari situ kita bisa membuat perkiraan berapa biaya yang diperlukan. Kalau perkiraan dananya sudah ada, barulah kita menghitung berapa dana yang perlu diinvestasikan setiap bulannya dan bagaimana caranya.

Anda bisa bertanya pada bankir, agen asuransi, manajer investasi atau konsultasn perencana keuangan untuk dibuatkan perhitungannya dan mempertimbangkan pilihan produk investasinya. Tidak perlu terpaku pada hanya 1 produk saja, tapi terbukalah untuk berbagai kemungkinan dengan plus dan minusnya.

Sedikit bocoran ya, cara menghitung dana pendidikan yang diperlukan dengan hitungan sederhana. Jika anak berusia 0 tahun, artinya masih dalam kandungan atau masih bayi. Maka dana pendidikan yang diperlukan kelak adalah 2x lipat dari dana pendidikan SD sekarang, 4x lipat dari dana SMP sekarang, 6x lipat dari dana SMA sekarang, dan 8x lipat dari dana kuliah sekarang.

Artinya, kita harus tahu dulu dimana anak akan bersekolah dan berapa biayanya sekarang, lalu kita kalikan dengan rumus di atas. Dari situ kita bisa mendapatkan kebutuhan dana yang akan diperlukannya kelak.

Dana pendidikan bisa disiapkan dengan emas, reksadana, asuransi unitlink, property, saham, dan lain sebagainya. Tentu setiap produk punya kelebihan dan kekurangan, serta strategi yang berbeda-beda.

Kalau langkah kita sudah benar, dimulai dengan membuat rencana pendidikan anak terlebih dahulu. Dari situ lalu membuat perkiraan dana yang diperlukan, maka kita bisa menghitung dengan lebih tepat berapa yang harus diinvestasikan dari sekarang. Dan produk apa yang paling cocok dengan kebutuhannya, cocok dengan kondisi keuangan sekarang, dan cocok dengan profil risiko kita sendiri. Sehingga saat dananya diperlukan, nantinya bisa tersedia sesuai dengan jumlah yang diperlukan.

Investasi memang perlu dikawal dengan asuransi. Karena kita tidak pernah tahu kapan akan dipanggil oleh-Nya. Maka kita siapkan rencana cadangan berupa asuransi. Agar saat kita dipanggil padahal dana pendidikan belum terkumpul, ada santunan asuransi yang menggantikan setoran investaisnya. Di sinilah peran asuransi sebagai cadangan, bukan rencana utama. Rencana utama tetap investasi, dengan backup asuransi.

Selamat berhitung, membuat rencana investasi dan memilih asuransi.

5 Sebab Gagalnya Pensiun Dini

1. Tidak memiliki rencana pensiun yang jelas

Dalam pelatihan pensiun yang sering diadakan, saya selalu bertanya satu hal “apa rencana Anda sesudah pensiun?” Tentu saja rencana yang saya maksud di sini adalah rencana sumber penghasilan mereka sesudah pensiun. Hanya satu dua orang yang menjawab.

Saya ulangi lagi pertanyannya “Apakah Anda memilih untuk bekerja kembali? membuka usaha? atau menikmati hidup saja? tanpa bekerja dan buka usaha” Setelah diberikan 3 pilihan itu, juga belum semua peserta bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Padahal, tidak pernah ada kata mendadak untuk yang namanya pensiun. Mereka yang pensiun secara normal tentu punya waktu puluhan tahun untuk mengambil keputusan ini. Mereka yang pensiun dini sukarela tentunya sudah punya alasan yang jelas, sehingga seharusnya juga punya rencana yang jelas. Bahkan mereka yang pensiun dini “terpaksa” pun punya waktu beberapa bulan atau setidaknya beberapa pekan untuk mengambil keputusan ini.

Tanpa rencana yang jelas, dengan uang pensiun diterima begitu besar, bayangkan apa yang terjadi…!

Itu dari segi penggunaan uang pensiun. Belum lagi dengan rencana hidup mereka yang lainnya. Darimana sumber penghasilan di masa pensiun nanti. Bagaimana mengatur kembali pola pengeluaran setelah berhenti kerja, dan sebagainya.

Karena tentunya setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda pula. Jika ingin bekerja kembali setelah pensiun dini, jelas pilihan investasinya berbeda dengan mereka yang berencana untuk tidak bekerja lagi. Begitu juga jika ingin membuka usaha, tentunya pemanfaatan uang pensiunnya akan berbeda, rencana cashflownya juga akan berbeda.

Satu hal lagi, jika Anda tidak memiliki rencana yang jelas, darimana sumber penghasilan setelah pensiun. Dan akan digunakan untuk apa dana pensiun yang diterima. Jangan kaget jika Anda nantinya akan kebingungan sendiri dengan banyaknya penawaran yang masuk.

Jangan keget jika tetangga yang tadinya hanya bertegur sapa nantinya jadi sering datang ke rumah. Saudara yang tadinya cuma sms seperlunya, jadi sering menelpon menanyakan kabar. Apalagi kalau bukan untuk meminjam uang, menarkan kerjasama modal, menjual barang, dan sebagainya.

Saya bukan bilang itu semua harus dihindari. Maksud saya adalah, kalau Anda tidak punya rencana sebelumnya, apalagi Anda sendiri juga “tidak tegaan” untuk menolak. Bukan tidak mungkin uang pensiun habis hanya untuk memenuhi berbagai “proposal” yang masuk.

 

 

2. Tidak menghitung biaya pensiun

Sebelum memutuskan untuk pensiun dini, apalagi yang dilakukan secara sukarela, tentunya sudah dijelaskan mengenai hak-hak yang akan diterima sebagai peeserta program pensiun. Baik itu uang pensiun lumpsum yang akan diterima, jamsostek, asuransi, dll. Sehingga sebetulnya kita bisa menghitung apakah kompensasi pensiun dini tersebut cukup atau tidak untuk bisa pensiun dini.

Tapi sayangnya, tidak semua orang menghitung biaya yang diperlukan untuk pensiun. Kalau sudah pensiun, pasti pengeluaran lebih kecil. Kan gak kerja lagi, gak makan siang di luar, gak keluar uang transport, dan seterusnya. Padahal, kalau kita mau lebih ditel memperhatikan, ada pengeluaran yang mungkin malah akan naik di masa pensiun. Biaya untuk hiburan, transportasi, telekomunikasi, biaya hobi, biaya kesehatan dan lainnya.

Dan selain itu, ada lagi yang sering dilupakan, yaitu kebutuhan besar seperti menikahkan anak, naik haji, dan sebagainya.

 

3. Masih menerapkan pola hidup lama

Jika kita melestarikan pola pikir selama bekerja dalam hal konsumerisme, percayalah… seberapa besar pun uang pensiun yang diterima, bisa habis seketika saja. Sebagai seorang karyawan, dengan gaji tetap dan pasti, tentunya memiliki “kekuasaan” untuk membeli, terutama di tanggal muda.

Di masa aktif, kita melihat TV 40″ dengan pola pikir…. “Saya baru punya yg 21″ di rumah dan yg 40″ ini bisa dengan mudah dicicil.” Maka di masa pensiun, seharusnya pola pikirnya diubah “Saya sudah punya 21″, maka saya tidak perlu lagi yg 40″.

 

4. Rongrongan keluarga

Suatu hari datang seorang klien yang akan segera pensiun dengan dana yang lumayan besar. Ketika ditanyakan apa saja tujuan keuangannya, dia pun menceritakan bahwa ia ingin agar ketiga anak lelakinya disediakan masing-masing sebuah rumah, sebuah mobil, pendidikan S2, serta biaya haji.

Kadangkala, bukan seorang anak manja dan minta ini itu dari orangtuanya tanpa peduli orangtuanya itu sudah pensiun atau masih berpenghasilan. Tapi kadang orangtuanya sendiri yang memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas yang sebetulnya sudah selayaknya mereka usahakan sendiri karena mereka (seharusnya) sudah dewasa.

Dan jangan harap Anda bisa melepas anak-anak begitu saja begitu Anda pensiun jika pola asuhnya sejak kecil adalah anak diberikan semua, tanpa harus berusaha. Dengan dalih kasih sayang, memang berat bagi orangtua untuk mengajarkan disiplin keuangan pada anak-anaknya. Tapi satu hal yang pasti, Anda tidak akan selamanya ada untuk mereka. Maka Anda boleh memilih, untuk selalu menyuapi mereka ikan, menyediakan ikan dan biarkan mereka makan sendiri, berikan kail dan biarkan mereka mancing sendiri, atau berikan mereka pengetahuan untuk membuat kail dan mencari tempat ikan. Agar kapapun kail itu patah, mereka bisa membuatnya sendiri; kapanpun ikanya habis, mereka bisa mencari tempat lain yang masih banyak ikannya.

 

5. Musibah Keuangan

Sebaik-baik kita membuat rencana, serahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Jika rencana A, ternyata hasilnya adalah B. Maka yakinlah bahwa B adalah yang terbaik untuk kita, pada saat itu. Dan usaha kita untuk A tidak akan pernah sia-sia. Namun sama sekali tidak ada salahnya juga untuk berusaha agar musibah tidak terjadi. Dan jikalaupun terjadi, maka dampaknya bisa kita minimalisir.

Secara perhitungan, risiko ini bisa kita antisipasi dengan asuransi. Ketika masih bekerja, antisipasi risiko sudah dilakukan oleh perusahaan. Mulai dari asuransi kesehatan untuk pekerja, maupun juga untuk keluarganya. Tapi begitu tidak lagi bekerja, jangan lupa bahwa kemungkinan itu juga tetap ada. Dan akibatnya bisa fatal secara finansial jika tidak diantisipasi.

Selain asuransi, ada cara lain yang tidak boleh ditinggalkan dalam manajemen risiko, yaitu sedekah. Karena sedekah bukan cuma mengantisipasi dampak dari musibah, tapi juga dapat mencegah musibah itu terjadi.

Perbedaan Unitlink dan Reksadana

Pagi ini ada yang bertanya apa bedanya produk “X” yang dibayar selama 10 tahun dengan reksadana yang sebelumnya saya sering sebut dalam timeline. Kebetulan produk “X” yang disebut itu adalah sebuah unitlink. Untuk lebih jelasnya, saya kutip tweet saya tadi siang. Dan penjelasannya agar tidak bingung dengan keterbatasan 140 karakter twitter.

Perbedaan Reksadana dan Unitlink: 1.Unitlink adlh produk ASURANSI dgn tambahan fitur investasi. Sedangkan RD adlh produk khusus INVESTASI.

Artinya, kalau beli unitlink maka kita beli asuransi dan investasi secara sekaligus. Produk utamanya adalah asuransi, jadi tidak bisa invest di unitlink tanpa beli asuransinya. Sedangkan reksadana adalah produk asuransi saja, tidak ada unsur asuransinya. Asuransinya harus dibeli terpisah, jika diperlukan.

2. Unitlink dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Reksadana dikeluarkan oleh perusahaan Manajemen Aset. Nama perusahaannya beda.

Perusahaan yang menjual asuransi biasanya mengandung nama “Life” atau “Financial”, misalnya PT X Life, atau PT X Financial. Sedangkan perusahaan yang menerbitkan reksadana biasanya ada nama “Asset Management” atau “Manajemen Aset” di belakangnya. Misalnya PT X Asset Management atau PT X Manajemen Aset.
Maaf ya, saya sebut merek agar lebih jelas. Misalnya BNI Life menerbitkan produk unitlink, BNI Asset Management menerbitkan reksadana, dan keduanya adalah anak perusahaan dari Bank BNI. Bank, Life, dan Asset Management adalah 3 perusahaan yang berbeda (satu grup) dan punya produk yang berbeda.

3. Faktor biaya di unitlink sekitar 200% dari premi tahunan + biaya asuransi (premi asuransi murni) + biaya investasi 5%. Sedangkan RD…

Tweet yang ini banyak tanya, kok bisa biayanya 200%…? Maksud saya adalah biayanya 200% dari premi tahunan selama 10 tahun pembayaran premi. Karena serial tweet ini untuk menjawab pertanyaan salah seorang follower dimana kasusnya adalah beliau membayar premi selama 10 tahun.
Misalnya, premi dibayarkan Rp 6.000.000 setiap tahun. Total biaya akuisisinya sekitar Rp 12.000.000 selama 10 tahun tersebut. Saya sebut total karena biayanya dipotong di 3-5 tahun pertama dengan komposisi yang berbeda-beda (tergantung produknya) yang jika dijumlahkan menjadi setara dengan premi selama 2 tahun.
Biaya asuransi adalah biaya yang dibayarkan sebagai premi asuransi murni tergantung dari jenis asuransi yang diambil. Yang utama adalah asuransi jiwa, tambahannya bisa asuransi kesehatan, penyakit kritis, dll.
Dan biaya investasi ini adalah selisih antara harga unit investasi ketika dibeli dan dijual.
Untuk lebih jelasnya, baca polis masing-masing ya :)

Sedangkan RD biayanya saat beli (0- 2%), biaya tahunan (1%-2,5%), biaya jual (0-2%). Beda jauh kan?

Nah, biaya pada RD adalah biaya pembelian yang besarnya bervariasi sekitar 0% – 2% dari setoran investasi. Biaya manajemen dipotong setiap tahun sebesar 1% – 2,5% dari nilai aset yang dikelola (kita akan mendapatkan nilai aktiva bersih yang sudah dipotong biaya tersebut), dan kalau dijual ada biaya yang bervariasi juga sekitar 0% sampai 2%.

 

4. Premi unitlink dibayar rutin selama jk waktu tertentu, plus bisa topup kapan saja. RD bisa dibeli kapan saja & dijual kapan saja.

 

Pembayaran premi unitlink dibuat terencana apakah itu sekali bayar saja di awal, atau dalam jangka waktu 10 tahun misalnya. Sudah ditentukan jumlah premi yang harus dibayarkan. Walaupun bisa saja menambah sewaktu-waktu, atau tidak membayar jika saldo investasinya cukup untuk membayar premi asuransinya.

Kalau reksadana bebas bisa beli kapan saja dan jual kapan saja. Bisa juga kita tambahkan rutin setiap bulan. Bebas.

 

5.Unitlink dijual via agen asuransi perorangan, makanya bisa lbh populer. RD dijual oleh penerbitnya atau via agen penjual bank & sekuritas.

 

Nah, unitlink lebih populer dibanding reksadana karena dipasarkan oleh agen asuransi secara personal. Tersebar dimana saja, karena tidak perlu kantor. Sedangkan reksadana masih banyak yang belum tahu karena dipasarkan hanya oleh perusahaan aset manajemen itu sendiri, atau melalaui agen penjual yaitu bank dan perusahaan asuransi.

Kembali ke contoh di atas, Bank BNI (hanya contoh saja) bisa menjual reksadana yang diterbitkan oleh BNI Asset Management, dan bisa juga menjual unitlink dari BNI Life. Tapi ingat, bank hanya sebagai agen penjual saja. Selain di bank, BNI Securites (ini perusahaan sekuritas) juga bisa menjual reksadana jika sudah punya izin untuk itu.

Jadi ada 4 perusahaan yang berbeda: Bank, perusahaan asuransi (Life), perusahaan manajemen investasi (Asset Management), perusahaan sekuritas (Securities) yang punya produk masing-masing namun bisa menjadi agen penjual untuk yang lainnya. RD yang dijual di bank tidak terpengaruh dengan bangkrutnya bank. Dan sebaliknya, reksadananya merugi pun tidak mempengaruhi banknya.

 

Serial tweet di atas hanya untuk membandingkan saja antara unitlink dan reksadana, keputusan tetap di tangan Anda masing-masing. Tentu saja reksadana bukan apple dan unitlink juga bukan apple sehingga tidak bisa dibandingkan apple to apple. Masing-masing punya fungsi yang berbeda. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, atau tanya perencana keuangan masing-masing ya ;)

 

 

wpid-img_20141125_220343.jpg

Gaji UMK vs Kenaikan BBM

wpid-img_20141125_220343.jpg

 

Beberapa hari sesudah kenaikan BBM bersubsidi dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500, saya mendapati gambar di atas beredar di media sosial.

Awalnya saya tidak berminat untuk mengomentari hitung-hitungan tersebut karena bukan sebuah kasus riil. Tapi tadi malam ada sebuah mention di akun twitter saya yang meminta komentar atas perhitungan di atas.

Komentar saya sederhana saja:
1. Biaya bensin Rp 10.000/hari sebelum naik bisa untuk beli 1,5 liter premium. Sedangkan sesudah naik, biaya Rp 15.000 bisa untuk beli 1,7 liter premium. Dengan asumsi konsumsi BBM sepeda motor adalah 50-60 km/liter, artinya jarak tempuhnya adalah 75 – 100 km/hari. Artinya jarak dari rumah kontrakan ke tempat kerja adalah 35 km – 50 km. Jadi, kalau kasus ini riil dialami oleh seseorang, saran saya sederhana saja. Cari rumah kontrakan yang lebih dekat.

2. Biaya kontrakan rumah Rp 600.000 apakah masuk akal? Dalam daftar KHL tahun 2013, biaya sewa tempat tinggal memang ditetapkan sebesar itu per bulannya. Di Jakarta, itu cuma cukup untuk 1 kamar kecil untuk bujang. Di kota satelit Jakarta, bisa sewa rumah petak Rp 300.000 – 500.000 per bulan. Jadi, buat apa pilih rumah kontrakan dengan standar paling mahal (berdasarkan KHL) tapi jaraknya sangat jauh dari tempat kerja?

3. Kalau mau mengacu pada KHL sebetulnya perhitungan itu dirancang untuk bujangan (belum menikah), tidak merokok, tidak punya rumah (sewa kos), tidak punya cicilan sepeda motor (naik angkot), masak sendiri (tidak beli makan siang). Memang seperti itulah KHL diperhitungkan, dan itu dijadikan sebagai standar penentuan UMK.
Apakah solusinya dengan menaikkan standar KHL dan agar upah minimum juga naik?
Saya tidak setuju. Karena banyak yang sangat puas dengan gaji standar minimum sekarang, terutama para bujangan yang baru lulus sekolah dan langsung bekerja.
Yang merasa kekurangan (dan memang wajar kurang) adalah jika seorang karyawan yang sudah beberapa tahun bekerja, sudah menikah dan bahkan punya anak, tapi masih dibayar dengan gaji UMK.
Jadi sebaiknya yang diperbaiki bukanlah UMK, tapi sistem kenaikan gaji/karir, agar jangan sampai ada karyawan yang sudah beberapa tahun kerja tapi masih digaji standar UMK sama dengan pekerja baru. Apalagi jika statusnya adalah kontrak dan outsourcing yang tidak pernah diangkat karyawan tetap agar perusahaan bisa tetap punya alasan untuk menggaji dengan UMK.

4. Hampir setiap kenaikan BBM saya selalu mendapatkan pertanyaan dari wartawan bagaimana menyiasati kenaikan biaya hidup. Dan sekarang juga bukan cuma dari wartawan tapi di media sosial. Tapi tahun lalu ketika UMK naik tinggi sampai lebih dari 40% kok saya tidak ditanya ya bagaimana memanfaatkan kenaikan gaji?
Jangan cuma mengeluh saat biaya hidup naik tapi diam saja saat gaji naik dong ;)

Bujet dan Kontrol Keuangan

 

Banyak yang bertanya, berapa persen baiknya bujet untuk investasi dari penghasilan, berapa persen seharusnya bujet untuk belanja bulanan, berapa untuk transport, berapa bujet untuk hobi, berapa bujet untuk ini, berapa bujet untuk itu. Banyak orang yang fokus pada bujet, sebagai aturan dalam mengelola pengeluaran. Tapi apakah bujet efektif dalam mengatur pengeluaran?

Pertama, bujet tidak selalu bisa digeneralisir untuk semua rumah tangga. Mereka yang bekerja di pusat kota besar dan tinggal di pinggiran kota memiliki bujet transportasi yang lebih tinggi dibanding yang tinggal di pusat kota. Tapi sebagai kompensasinya, yang tinggal di pusat kota harus memiliki bujet yang lebih besar untuk biaya hidup dan sewa rumah.

Dan kedua, menurut saya, sebagus apapun rumusan bujet yang kita susun, jika tidak ada kontrol dalam menjalankannya, maka bujet itu menjadi percuma saja. Kata kunci yang lebih penting dari bujet, adalah “kontrol”.

Pastikan bahwa kita yang mengontrol uang, bukan uang yang mengontrol kehidupan kita. Bahwa uang berada dalam kendali kita, artinya kita tahu persis berapa uang yang masuk dalam satu bulan ini, dan kita tahu berapa uang yang dikeluarkan, dan untuk apa saja. Kalau penghasilan sih tahu persis berapa yang diperoleh, tapi tahukah kita berapa uang keluar dan untuk apa saja? Cobalah lacak pengeluaran secara detail dalam 2-3 bulan, setelah itu kita bisa tentukan sendiri bujet untuk tiap pos pengeluaran.

Kontrol keuangan juga berarti kita punya kendali penuh untuk membuat keputusan keuangan. Apakah membeli atau tidak membeli, membayar atau tidak membayar, dengan segala konsekuensinya. Ah, itu sih mudah, uang kan saya yang pegang, saya yang putuskan untuk beli atau tidak. Oke, sekarang coba ingat-ingat pernahkah kita membeli sesuatu karena merasa tidak enak pada yang menjual? Pernahkah kita meminjamkan uang hanya karena tidak enak jika menolak? Jika pernah, maka itu artinya kita pernah kehilangan kontrol atas keuangan kita.

Dan terakhir, kontrol juga artinya kita punya kendali untuk menaikkan atau menurunkan angkanya, melakukan penyesuaian keuangan seperti halnya kita mengontrol kendaraan bisa rem atau gas, belok kanan atau kiri. Wah, tidak semua bisa kita kontrol dong, karena ada pengeluaran yang besarannya ditentukan pihak lain seperti sekolah, listrik, telpon sudah ada tarifnya.

Memang betul sekolah sudah ada tarifnya, tapi bukankah kita sendiri yang punya kontrol apakah anak akan disekolahkan di sekolah A atau sekolah B dengan tarifnya masing-masing? Memang betul listrik dan telpon sudah ada tarifnya, tapi bukankah penggunaannya terserah kita sendiri untuk mengontrolnya?

Bagaimana dengan penghasilan? Sulit untuk mengontrolnya sebagai karyawan yang tinggal terima gaji saja. Nah, kita memang tidak punya kuasa seberapa besar bos kita memberi gaji, tapi bukankah kita bisa meminta kepada pemilik kehendak di alam raya atas curahan karunia rezeki-Nya dari jalan manapun juga. Sudahkah kita berdoa?

Cicil Rumah atau Sewa Saja?

Pertanyaan ini sering menjadi diskusi pasangan muda saat sudah tak nyaman lagi tinggal bersama mertua, saat sudah saatnya hidup mandiri di rumah sendiri. Karena tak sempurna rasanya disebut rumah tangga kalau rumahnya masih bersama-sama orangtua.

Mana yang lebih baik, cicil rumah atau sewa rumah? sulit untuk menjawabnya jika pilihannya adalah cicil rumah A dan sewa rumah B, karena objeknya yang tidak sama. Dan pertimbangannya jelas bukan cuma masalah keuangan tapi juga lokasi, kenyamanan bertetangga dan sebagainya.

Nilai sewa rumah tinggal pada umumnya berkisar antara 2,5% sampai dengan 5% dari harga pasar properti tersebut. Jadi jika ada penawaran rumah dijual dengan harga 100jt atau disewa dengan harga 10jt per tahun, maka bisa dibilang bahwa rumah tersebut lebih baik kita beli saja karena nilai sewanya terlalu mahal atau harga jualnya yang terlalu rendah. Untuk daerah tertentu rumus ini mungkin perlu disesuaikan ya, silakan cek harga pasar wajar di sekitarnya.

Secara cashflow bulanan, sewa rumah jelas lebih murah dibandingkan dengan cicilan rumah. Sewa rumah biasanya sekitar seperempat sampai setengah dari uang yang harus dikeluarkan untuk mencicil rumah dengan harga yang sama. Tapi dalam jangka panjang, cicil rumah jelas punya keuntungan jangka panjang karena dalam jangka waktu 10 tahun sampai 15 tahun mencicil, rumahnya akan menjadi hak milik kita secara sepenuhnya. Plus harganya hampir bisa dipastikan sudah naik saat cicilannya lunas.

Lalu bagaimana strategi dari yang awalnya sewa rumah bisa kemudia cicil rumah sendiri?

  1. Survey harga rumah dan perhitungan KPR-nya. Jangan kaget melihat harga rumah yang makin lama makin mahal, itu justru penguat motivasi untuk segera beli sebelum tambah mahal lagi. Biasanya untuk membeli rumah perlu uang muka 20% – 30% dari harga rumah, dan besarnya cicilan adalah 30% dari gaji.
  2. Latihan mencicil. Alokasikan 30% dari penghasilan khusus untuk rumah, anggap saja ini latihan mencicil rumah. Dari 30% tadi, seperempatnya sampai setengahnya bisa digunakan untuk sewa rumah. Dan sisanya masukkan ke dalam tabungan khusus untuk uang muka rumah.
  3. Dalam waktu 2 sampai 4 tahun, tabungan uang muka rumah insya Allah sudah cukup untuk membayar uang muka rumah dengan standar yang sesuai dengan kemampuan kita mencicil KPR yaitu 30% dari penghasilan.
  4. Setelah membayar uang muka rumah, maka 30% yang tadinya untuk sewa dan tabungan uang muka rumah sekarang dialihkan menjadi pembayaran cicilan KPR. Kita tidak akan berat lagi bayar cicilan KPR karena sudah terbiasa sejak 2-4 tahun sebelumnya mengalokasikan 30% dari penghasilan.
'