Gozali's Blog

5 Hal Yang Harus Dilakukan Pengantin Baru dalam Mengelola Keuangan

Dalam kultur masyarakat Indonesia, pernikahan adalah titik awal seseorang harus bisa mandiri secara finansial. Jika belum menikah, masih bisa sesekali minta bantuan orangtua, walaupun sudah punya penghasilan sendiri. Saat belum menikah, tinggal bersama orangtua selama puluhan tahun pun hampir tak pernah minta izin menumpang di rumah orangtua.

Tapi begitu sudah menikah, segalanya menjadi berubah. Mau tinggal di rumah orangtua, diawali dengan permisi lebih dahulu. Butuh bantuan keuangan pun statusnya bukan lagi minta, tapi pinjam. Karena kalau sudah menikah, secara keuangan diharapkan sudah independen. Sudah mandiri dan menjadi entitas keuangan sendiri.

Lalu apa saja yang harus dilakukan pasangan baru menikah agar keuangannya tidak berantakan dan bisa mandiri secara keuangan?

5 hal yang harus dilakukan pengantin baru:

  1. Miliki visi dan mimpi bersama

    Mengarungi bahtera kehidupan bersama, tentu harus sepakat kemana layar mengarah. Visi dan impian bersama perlu dibangun sejak awal agar bisa menentukan strategi keuangan untuk mencapainya. Beda visi, beda strategi. Beda impian, bed acara untuk mewujudkannya.

    Misalnya saja pandangan tentang mobilitas dan kemapanan. Seoarang suami biasanya lebih mementingkan mobilitas daripada kemapanan. Sebaliknya seoarang istri merasa kemapanan itu lebih prioritas dibandingkan dengan mobilitas. Itulah kenapa suami lebih merasa perlu beli kendaraan dulu sebelum beli rumah. Sedangkan istri merasa ingin memiliki rumah dulu sebelum kendaraan. Ini bukan masalah benar atau salah, tapi perlu kesepakatan bersama untuk menilai mana yang lebih prioritas dibandingkan dengan yang lainnya.

    Begitu juga pandangan mengenai pendidikan anak, perlu disepakati seperti apa pola pendidikan dan pengasuhan anak yang ideal. Karena hal ini akan sangat mempengaruhi keuangan keluarga. Sepakati juga siapa yang mencari nafkah, bagaimana mengatur tanggungjawab dan delegasi tugas dalam rumah tangga terkait dengan keuangan.

    Buatlah peta kehidupan, kapan ingin beli rumah, punya anak, beli kendaraan, naik haji, pensiun, buka usaha, pendidikan anak, dan lain sebagainya. Dari sini baru kita bisa membuat rencana keuangannya.

     

  2. Sepakati tujuan keuangan bersama

    Setelah visi dan impian disepakati, buat lebih detail lagi dalam bentuk tujuan keuangan. Punya anak yang pintar dan soleh, itu visi. Tujuan keuangan untuk mewujudkan visi itu adalah punya biaya pendidikan dari TK, SD sampai Kuliah di sekolah swasta Islami dengan standar sekian juta rupiah. Tujuan keuangan itu harus jelas untuk apa, berapa dan kapan.

    Menyempurnakan Islam dengan berhaji adalah visi. Tujuan keuangannya adalah memiliki ongkos naik haji berdua suami dan istri, dengan ONH Plus atau Reguler senilai sekian juta rupiah agar bisa berangkat dalam waktu sekian tahun lagi.

    Susun tujuan keuangan ini bersama-sama, dan buat prioritasnya. Mana yang lebih penting dibanding yang lainnya. Mana yang harus dicapai lebih awal, mana yang harus didahulukan jika dananya pas-pasan.

     

  3. Konsolidasi cashflow

    Sebelum menikah, masing-masing punya pola penghasilan dan pengeluaran sendiri. Begitu menikah, tentu hal ini harus dikonsolidasikan. Apakah akan menggabungkan penghasilan atau tidak. Pengeluaran apa yang bisa digabung dan mana yang menjadi tanggungjawab masing-masing. Kebiasaan keuangan seperti apa yang perlu diketahui pasangannya, sebaiknya juga dibicarakan agar efektif dalam mengatur keuangan.

  4. Evaluasi keperluan asuransi

     

    Setelah menikah, profil risiko seseorang pun berubah, maka perlu evaluasi kembali keperluan asuransi agar bisa mengelola risiko dengan lebih terencana. Sebagai seorang lajang yang tidak memiliki tanggungan nafkah, boleh saja tidak punya asuransi jiwa. Toh meninggal dunia sekalipun, tidak ada yang terkena dampaknya secara finansial.

     

    Tapi begitu menikah, tentu tanggungan nafkah berubah. Nafkah istri menjadi tanggungjawab suami, apalagi jika sudah punya anak, maka beban tanggungjawabnya juga terhadap nafkah anak. maka ketika sudah menikah, perlu dhitung ulang, berapa uang pertanggungan yang diperlukan untuk asuransi jiwa. Begitu juga saat punya anak, perlu dievaluasi lagi kebutuhan asuransinya.

     

  5. Start small for big impact

    Terkadang banyak pasangan muda yang belum merasa perlu mengatur keuangannya sekarang karena penghasilannya belum seberapa, usianya masih muda, dan beragam alasan lainnya. Padahal justru hal-hal besar itu dibangun dari hal-hal kecil yang konsisten kita lakukan dalam jangka panjang.

    Misalnya saja melatih anak untuk menggunakan toilet sejak usia dini agar tidak ketergantungan menggunakan popok sekali pakai, dampaknya bisa 500rb sampai 1jt per bulan. Penghematan satu tahun bebas popok bisa berarti 6jt sampai 12jt yang jika diinvestasikan bisa menjadi 60jt – 100jt saat si anak masuk kuliah.

    Contoh lainnya mengurangi makan di luar bisa berhemat 500rb per bulannya, jika dikumpulkan dalam waktu 2-3 tahun sudah bisa menjadi sepeda motor atau uang muka untuk mobil. Jangan lihat angkanya kecil tapi bayangkan jika kebiasaan kecil itu bisa berdampak besar dalam jangka panjang. Bukan hanya pada penghematan biaya dan surplus untuk investasi, tapi lebih penting lagi adalah membentuk kebiasaan baik dalam jangka panjang.

 

Selain itu untuk pengantin baru, tips di atas juga bisa digunakan oleh pengantin lama tapi baru mau mulai sekarang mengelola keuangannya dengan lebih baik.

Uang memang bukan factor utama yang membangun kebahagiaan dalam keluarga. Tapi uang bisa menjadi factor utama yang menjadi sebab masalah dalam keluarga. Yuk, bangun ketahanan keuangan keluarga dari sekarang.

 

Ahmad Gozali

Penulis buku laris “Habiskan Saja Gajimu”.

www.gozali.ID

twitter.com/AhmadGozali

facebook.com/Ahmad.Gozali

 

One thought on “5 Hal Yang Harus Dilakukan Pengantin Baru dalam Mengelola Keuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'