Gozali's Blog

5 Sebab Gagalnya Pensiun Dini

1. Tidak memiliki rencana pensiun yang jelas

Dalam pelatihan pensiun yang sering diadakan, saya selalu bertanya satu hal “apa rencana Anda sesudah pensiun?” Tentu saja rencana yang saya maksud di sini adalah rencana sumber penghasilan mereka sesudah pensiun. Hanya satu dua orang yang menjawab.

Saya ulangi lagi pertanyannya “Apakah Anda memilih untuk bekerja kembali? membuka usaha? atau menikmati hidup saja? tanpa bekerja dan buka usaha” Setelah diberikan 3 pilihan itu, juga belum semua peserta bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Padahal, tidak pernah ada kata mendadak untuk yang namanya pensiun. Mereka yang pensiun secara normal tentu punya waktu puluhan tahun untuk mengambil keputusan ini. Mereka yang pensiun dini sukarela tentunya sudah punya alasan yang jelas, sehingga seharusnya juga punya rencana yang jelas. Bahkan mereka yang pensiun dini “terpaksa” pun punya waktu beberapa bulan atau setidaknya beberapa pekan untuk mengambil keputusan ini.

Tanpa rencana yang jelas, dengan uang pensiun diterima begitu besar, bayangkan apa yang terjadi…!

Itu dari segi penggunaan uang pensiun. Belum lagi dengan rencana hidup mereka yang lainnya. Darimana sumber penghasilan di masa pensiun nanti. Bagaimana mengatur kembali pola pengeluaran setelah berhenti kerja, dan sebagainya.

Karena tentunya setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda pula. Jika ingin bekerja kembali setelah pensiun dini, jelas pilihan investasinya berbeda dengan mereka yang berencana untuk tidak bekerja lagi. Begitu juga jika ingin membuka usaha, tentunya pemanfaatan uang pensiunnya akan berbeda, rencana cashflownya juga akan berbeda.

Satu hal lagi, jika Anda tidak memiliki rencana yang jelas, darimana sumber penghasilan setelah pensiun. Dan akan digunakan untuk apa dana pensiun yang diterima. Jangan kaget jika Anda nantinya akan kebingungan sendiri dengan banyaknya penawaran yang masuk.

Jangan keget jika tetangga yang tadinya hanya bertegur sapa nantinya jadi sering datang ke rumah. Saudara yang tadinya cuma sms seperlunya, jadi sering menelpon menanyakan kabar. Apalagi kalau bukan untuk meminjam uang, menarkan kerjasama modal, menjual barang, dan sebagainya.

Saya bukan bilang itu semua harus dihindari. Maksud saya adalah, kalau Anda tidak punya rencana sebelumnya, apalagi Anda sendiri juga “tidak tegaan” untuk menolak. Bukan tidak mungkin uang pensiun habis hanya untuk memenuhi berbagai “proposal” yang masuk.

 

 

2. Tidak menghitung biaya pensiun

Sebelum memutuskan untuk pensiun dini, apalagi yang dilakukan secara sukarela, tentunya sudah dijelaskan mengenai hak-hak yang akan diterima sebagai peeserta program pensiun. Baik itu uang pensiun lumpsum yang akan diterima, jamsostek, asuransi, dll. Sehingga sebetulnya kita bisa menghitung apakah kompensasi pensiun dini tersebut cukup atau tidak untuk bisa pensiun dini.

Tapi sayangnya, tidak semua orang menghitung biaya yang diperlukan untuk pensiun. Kalau sudah pensiun, pasti pengeluaran lebih kecil. Kan gak kerja lagi, gak makan siang di luar, gak keluar uang transport, dan seterusnya. Padahal, kalau kita mau lebih ditel memperhatikan, ada pengeluaran yang mungkin malah akan naik di masa pensiun. Biaya untuk hiburan, transportasi, telekomunikasi, biaya hobi, biaya kesehatan dan lainnya.

Dan selain itu, ada lagi yang sering dilupakan, yaitu kebutuhan besar seperti menikahkan anak, naik haji, dan sebagainya.

 

3. Masih menerapkan pola hidup lama

Jika kita melestarikan pola pikir selama bekerja dalam hal konsumerisme, percayalah… seberapa besar pun uang pensiun yang diterima, bisa habis seketika saja. Sebagai seorang karyawan, dengan gaji tetap dan pasti, tentunya memiliki “kekuasaan” untuk membeli, terutama di tanggal muda.

Di masa aktif, kita melihat TV 40″ dengan pola pikir…. “Saya baru punya yg 21″ di rumah dan yg 40″ ini bisa dengan mudah dicicil.” Maka di masa pensiun, seharusnya pola pikirnya diubah “Saya sudah punya 21″, maka saya tidak perlu lagi yg 40”.

 

4. Rongrongan keluarga

Suatu hari datang seorang klien yang akan segera pensiun dengan dana yang lumayan besar. Ketika ditanyakan apa saja tujuan keuangannya, dia pun menceritakan bahwa ia ingin agar ketiga anak lelakinya disediakan masing-masing sebuah rumah, sebuah mobil, pendidikan S2, serta biaya haji.

Kadangkala, bukan seorang anak manja dan minta ini itu dari orangtuanya tanpa peduli orangtuanya itu sudah pensiun atau masih berpenghasilan. Tapi kadang orangtuanya sendiri yang memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas yang sebetulnya sudah selayaknya mereka usahakan sendiri karena mereka (seharusnya) sudah dewasa.

Dan jangan harap Anda bisa melepas anak-anak begitu saja begitu Anda pensiun jika pola asuhnya sejak kecil adalah anak diberikan semua, tanpa harus berusaha. Dengan dalih kasih sayang, memang berat bagi orangtua untuk mengajarkan disiplin keuangan pada anak-anaknya. Tapi satu hal yang pasti, Anda tidak akan selamanya ada untuk mereka. Maka Anda boleh memilih, untuk selalu menyuapi mereka ikan, menyediakan ikan dan biarkan mereka makan sendiri, berikan kail dan biarkan mereka mancing sendiri, atau berikan mereka pengetahuan untuk membuat kail dan mencari tempat ikan. Agar kapapun kail itu patah, mereka bisa membuatnya sendiri; kapanpun ikanya habis, mereka bisa mencari tempat lain yang masih banyak ikannya.

 

5. Musibah Keuangan

Sebaik-baik kita membuat rencana, serahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Jika rencana A, ternyata hasilnya adalah B. Maka yakinlah bahwa B adalah yang terbaik untuk kita, pada saat itu. Dan usaha kita untuk A tidak akan pernah sia-sia. Namun sama sekali tidak ada salahnya juga untuk berusaha agar musibah tidak terjadi. Dan jikalaupun terjadi, maka dampaknya bisa kita minimalisir.

Secara perhitungan, risiko ini bisa kita antisipasi dengan asuransi. Ketika masih bekerja, antisipasi risiko sudah dilakukan oleh perusahaan. Mulai dari asuransi kesehatan untuk pekerja, maupun juga untuk keluarganya. Tapi begitu tidak lagi bekerja, jangan lupa bahwa kemungkinan itu juga tetap ada. Dan akibatnya bisa fatal secara finansial jika tidak diantisipasi.

Selain asuransi, ada cara lain yang tidak boleh ditinggalkan dalam manajemen risiko, yaitu sedekah. Karena sedekah bukan cuma mengantisipasi dampak dari musibah, tapi juga dapat mencegah musibah itu terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'