Gozali's Blog

Atur Uangmu Seperti Mengatur Waktumu

Mengatur uang itu seperti mengatur waktu. Mengaturnya dengan teliti atau ceroboh dalam menggunakan waktu maupun uang, ujungnya sama saja yaitu sama-sama habis

Saat mengatur waktu yang penting adalah bukan seberapa banyak waktu yang kita miliki tapi seberapa berkualitas waktu tersebut digunakan. Karena setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama tapi digunakan dengan cara yang berbeda. Begitu juga dalam mengatur keuangan, walaupun jumlah uang setiap orang berbeda, tapi pada kenyataannya masalah keuangan tetap terjadi kepada mereka yang uangnya sedikit maupun banyak. Karena yang paling penting bukan seberapa banyak uang yang dimililiki, tapi digunakan untuk apa uang tersebut.

Para ahli manajemen mengajarkan kita tentang bagaimana cara mengatur waktu yaitu dengan membuat menjadi 4 kuadran. Ada agenda yang penting dan mendesak, ada agenda yang penting tapi tidak mendesak, ada yang tidak penting dan tidak mendesak, dan ada juga yang tidak penting tapi mendesak

Mengatur keuangan pun bisa dengan cara yang sama kita bagi ke dalam 4 kuadran tersebut. Ada pengeluaran yang sifatnya penting dan mendesak. Untuk pengeluaran seperti ini sebaiknya kita langsung anggarkan saja setiap bulannya dan keluarkan sesuai dengan prioritas kepentingannya. Tipsnya di kuadran ini adalah kenali pengeluaran yang penting dan mendesak tapi jumlahnya masih bisa dinegosiasikan. Misalnya biaya untuk makan atau konsumsi sehari-hari memang itu penting dan itu mendesak, tapi jumlahnya sebetulnya masih bisa dinegosiasikan.

Kuadran yang kedua yaitu pengeluaran yang penting tapi tidak mendesak, contohnya biaya pendidikan anak, biaya untuk pension, pembelian rumah, kendaraan dan lain sebagainya. Untuk pengeluaran yang seperti ini sebaiknya disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Karena jika tidak, yang tadinya penting tapi tidak mendesak bisa menjadi penting dan mendesak jika tidak disiapkan dengan baik . Kunci pada Kuadran kedua ini adalah investasi.

Kuadran yang ketiga yaitu pengeluaran yang tidak penting tapi mendesak. Misalnya saja membeli barang tersier di saat diskon. Pembeliannya sendiri sebetulnya tidak dianggap penting, tapi karena sedang ada diskon maka kita merasa terdesak untuk segera membelinya.

Kuadran yang keempat yaitu pengeluaran yang tidak penting dan tidak mendesak. Untuk pengeluaran seperti ini bisa dialokasikan dari keberlimpahan rezeki yang tidak diduga. Misalnya bonus atau penghasilan tambahan lainnya. Sesekali tidak mengapa memenuhi kebutuhan yang tidak penting dan tidak mendesak ini selama tidak mengganggu kebutuhan lainnya yang lebih penting dan lebih mendesak.

Yang sering menjadi masalah bukanlah kuadran keempat, karena kuadran keempat ini sudah kita sadari sebagai sesuatu yang tidak penting dan juga tidak mendesak sehingga tidak akan terlalu dipaksakan. Yang justru sering menjadi masalah adalah kuadran ketiga, karena walaupun tidak penting tapi karena sifatnya mendesak mendorong kita untuk segera membelinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'