Gozali's Blog

Bujet dan Kontrol Keuangan

 

Banyak yang bertanya, berapa persen baiknya bujet untuk investasi dari penghasilan, berapa persen seharusnya bujet untuk belanja bulanan, berapa untuk transport, berapa bujet untuk hobi, berapa bujet untuk ini, berapa bujet untuk itu. Banyak orang yang fokus pada bujet, sebagai aturan dalam mengelola pengeluaran. Tapi apakah bujet efektif dalam mengatur pengeluaran?

Pertama, bujet tidak selalu bisa digeneralisir untuk semua rumah tangga. Mereka yang bekerja di pusat kota besar dan tinggal di pinggiran kota memiliki bujet transportasi yang lebih tinggi dibanding yang tinggal di pusat kota. Tapi sebagai kompensasinya, yang tinggal di pusat kota harus memiliki bujet yang lebih besar untuk biaya hidup dan sewa rumah.

Dan kedua, menurut saya, sebagus apapun rumusan bujet yang kita susun, jika tidak ada kontrol dalam menjalankannya, maka bujet itu menjadi percuma saja. Kata kunci yang lebih penting dari bujet, adalah “kontrol”.

Pastikan bahwa kita yang mengontrol uang, bukan uang yang mengontrol kehidupan kita. Bahwa uang berada dalam kendali kita, artinya kita tahu persis berapa uang yang masuk dalam satu bulan ini, dan kita tahu berapa uang yang dikeluarkan, dan untuk apa saja. Kalau penghasilan sih tahu persis berapa yang diperoleh, tapi tahukah kita berapa uang keluar dan untuk apa saja? Cobalah lacak pengeluaran secara detail dalam 2-3 bulan, setelah itu kita bisa tentukan sendiri bujet untuk tiap pos pengeluaran.

Kontrol keuangan juga berarti kita punya kendali penuh untuk membuat keputusan keuangan. Apakah membeli atau tidak membeli, membayar atau tidak membayar, dengan segala konsekuensinya. Ah, itu sih mudah, uang kan saya yang pegang, saya yang putuskan untuk beli atau tidak. Oke, sekarang coba ingat-ingat pernahkah kita membeli sesuatu karena merasa tidak enak pada yang menjual? Pernahkah kita meminjamkan uang hanya karena tidak enak jika menolak? Jika pernah, maka itu artinya kita pernah kehilangan kontrol atas keuangan kita.

Dan terakhir, kontrol juga artinya kita punya kendali untuk menaikkan atau menurunkan angkanya, melakukan penyesuaian keuangan seperti halnya kita mengontrol kendaraan bisa rem atau gas, belok kanan atau kiri. Wah, tidak semua bisa kita kontrol dong, karena ada pengeluaran yang besarannya ditentukan pihak lain seperti sekolah, listrik, telpon sudah ada tarifnya.

Memang betul sekolah sudah ada tarifnya, tapi bukankah kita sendiri yang punya kontrol apakah anak akan disekolahkan di sekolah A atau sekolah B dengan tarifnya masing-masing? Memang betul listrik dan telpon sudah ada tarifnya, tapi bukankah penggunaannya terserah kita sendiri untuk mengontrolnya?

Bagaimana dengan penghasilan? Sulit untuk mengontrolnya sebagai karyawan yang tinggal terima gaji saja. Nah, kita memang tidak punya kuasa seberapa besar bos kita memberi gaji, tapi bukankah kita bisa meminta kepada pemilik kehendak di alam raya atas curahan karunia rezeki-Nya dari jalan manapun juga. Sudahkah kita berdoa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'