Gozali's Blog

Bukan Wakaf Biasa

Jika disebut kata WAKAF… apa yang terbayang di fikiran Anda pertama kali?

Kalau yang terbayang adalah masjid, tanah kosong, tanah kuburan, orang kaya yang sudah tua….. maka Anda termasuk mayoritas orang Indonesia yang saat ini melihat wakaf sebagai sarana orang kaya yang sudah tua untuk melepaskan asset propertinya untuk ummat.

Maka tidak heran jika saat ini banyak asset wakaf adalah justru asset yang bermasalah. Dikembangkan sendiri sulit, diwakafkan saja. Daripada jadi rebutan ahli waris, wakafkan saja. Daripada nganggur bingung mau dipakai apa, wakafkan saja. Maka jadilan nadzhir (pengelola asset wakaf) kebingungan.

Diamanahi tanah kosong untuk dijadikan sekolah/pesantren, tapi tidak dibekali juga dengan dana pembangunan dan potensi siswanya. Diamanahi tanah kosong untuk masjid, tapi tanahnya terjepit tanpa akses. Dijual tak bisa, ditukar-guling tak bisa.

Padahal wakaf itu ada banyak jenisnya, tidak harus wakaf secara mutlak dengan melepas hak kepemilikan properti, tapi bisa dengan wakaf berjangka waktu atau wakaf sementara. Misalnya, punya apartemen/rumah/ruko yang kosong karena ditinggal ke luar kota untuk sementara. Kenapa tidak diwakafkan selama ditinggal pergi saja. Sehingga bisa disewakan oleh nadzhir, dan hasil sewanya menjadi haknya para dhuafa penerima manfaat.

Wakaf juga bisa produktif, bukan hanya mewakafkan uang, tapi sekalian saja wakafkan “mesin uang”nya sekalian. Wakafkan pabrik yang sudah beroperasi, toko yang sudah ada pelanggannya, rumah sakit lengkap dengan segala perangkatnya.

Berwakaf bukan berarti menyerahkan semuanya pada kehendak nadzhir, wakif pun bisa menunjuk sendiri penerima manfaatnya, bahkan dari keluarganya sendiri. Misalnya, karena anak-anak saya masih kecil, saya wakafkan perusahaan saya untuk dikelola dimana hasilnya adalah untuk biaya hidup anak-anak yang masih kecil.

Bahkan wakaf pun bisa seperti investasi. Dengan menggabungkan wakaf ahli, wakaf berjangka dan wakaf produktif. Mewakafkan asset untuk diproduktifkan, dimana hasilnya dibagihasilkan sebagian untuk keuntungan wakif dan keluarga, dan sebagian lagi untuk keuntungannya disalurkan untuk dhuafa.

Malah seharusnya, wakaf itu harus produktif semua. Karena nadzhir tidak boleh mengambil harta wakaf, hanya boleh mengambil keuntungan dari hasil produktifitas wakafnya, itupun hanya 10% saja untuk biaya operasionalnya.

Kalau sudah begini, wakaf ternyata juga bisa untuk anak muda. Bisa untuk sarana investasi akhirat dan juga mendapatkan dunia. Iya kan?

Peer besar untuk mengubah paradigma wakaf masyarakat Indonesia. Dan peer besar untuk peningkatan kapasitas nadzhir. Nadzhir wakaf bukan lagi “penjaga tanah” tapi pengelola asset produktif seperti halnya perusahaan asset management yang canggih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'