Gozali's Blog

Cari Duit Itu Susah

Saat anggaran rumah tangga sudah disusun dengan rapi, masing-masing pos sudah dijatah alokasi dananya, tapi ada saja tambahan-tambahan di luar rencana. Apalagi kalau terkait sama anak. Maklum lah, namanya anak kecil, kadang taunya minta jajaaaan aja, gak mau tau kan uangnya dari mana atau jatahnya berapa.

Kalau dalam kondisi tenang sih, kita sebagai orangtua bisa menasehati anak dengan baik. Tapi dalam kondisi yang tidak tenang. Orangtua sedang sibuk, stress, terburu-buru atau repot dengan urusan ini itu. Yang niatnya menasehati malah jadinya mengomeli anak;

“Jangan jajan melulu, cari duit itu susah tau!”

Kira-kira, apa yang tertanam dalam benak anak-anak kita jika orangtuanya seringkali bahkan berulang-ulang mengucapkan kalimat tadi? Atau dengan kalimat sejenis itu.

Yang jelas, karena kalimat di atas keluar dari lisan orangtuanya yang sangat ia percayai dan kalimat itu diucapkan berulang kali, maka ia akan berfikir bahwa itu benar.

Anak memang akan berfikir seharusnya ia tidak terlalu sering jajan. Tapi apakah ia akan mengurangi keinginannya untuk jajan? Tergantung dari pengendalian dirinya dan banyak hal lainnya. Iya sih….. tapi…. Mungkin akan sering berulang juga di kepalanya.

Begitu juga anak berfikir bahwa kalimat kedua dari orangtuanya juga benar. Bahwa cari uang itu susah. Sampai dewasa pun ia akan menggap kalimat ini benar karena datang dari orangtuanya sendiri dan diucapkan secara berulang kali.

Lalu apa akibatnya kalau dalam pemahaman dasarnya ia meyakini bahwa “cari duit itu susah”? Kalau cari duit itu susah, apakah kita akan berusaha kerja keras atau malah mundur duluan? Ah, ngapain juga kerja keras, toh cari duit bagaimana pun juga susah kok dapatnya.

Maka berhati-hatilah dengan nasihat yang kita berikan kepada anak-anak, apalagi nasehat cepat (baca: omelan) yang secara spontan diucapkan. Kita perlu memperbaiki dulu nilai atau norma yang kita yakini, karena bagaimanapun juga, ia akan menular pada anak-anak kita nantinya.

Dan nilai yang ia yakini, akan menjadi dasarnya dalam bertindak dan merespon pada kenyataan. Maka pilihlah keyakinan dan nilai yang membangun dan hindari keyakinan dan nilai yang negatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'