Gozali's Blog

Gaji UMK vs Kenaikan BBM

wpid-img_20141125_220343.jpg

 

Beberapa hari sesudah kenaikan BBM bersubsidi dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500, saya mendapati gambar di atas beredar di media sosial.

Awalnya saya tidak berminat untuk mengomentari hitung-hitungan tersebut karena bukan sebuah kasus riil. Tapi tadi malam ada sebuah mention di akun twitter saya yang meminta komentar atas perhitungan di atas.

Komentar saya sederhana saja:
1. Biaya bensin Rp 10.000/hari sebelum naik bisa untuk beli 1,5 liter premium. Sedangkan sesudah naik, biaya Rp 15.000 bisa untuk beli 1,7 liter premium. Dengan asumsi konsumsi BBM sepeda motor adalah 50-60 km/liter, artinya jarak tempuhnya adalah 75 – 100 km/hari. Artinya jarak dari rumah kontrakan ke tempat kerja adalah 35 km – 50 km. Jadi, kalau kasus ini riil dialami oleh seseorang, saran saya sederhana saja. Cari rumah kontrakan yang lebih dekat.

2. Biaya kontrakan rumah Rp 600.000 apakah masuk akal? Dalam daftar KHL tahun 2013, biaya sewa tempat tinggal memang ditetapkan sebesar itu per bulannya. Di Jakarta, itu cuma cukup untuk 1 kamar kecil untuk bujang. Di kota satelit Jakarta, bisa sewa rumah petak Rp 300.000 – 500.000 per bulan. Jadi, buat apa pilih rumah kontrakan dengan standar paling mahal (berdasarkan KHL) tapi jaraknya sangat jauh dari tempat kerja?

3. Kalau mau mengacu pada KHL sebetulnya perhitungan itu dirancang untuk bujangan (belum menikah), tidak merokok, tidak punya rumah (sewa kos), tidak punya cicilan sepeda motor (naik angkot), masak sendiri (tidak beli makan siang). Memang seperti itulah KHL diperhitungkan, dan itu dijadikan sebagai standar penentuan UMK.
Apakah solusinya dengan menaikkan standar KHL dan agar upah minimum juga naik?
Saya tidak setuju. Karena banyak yang sangat puas dengan gaji standar minimum sekarang, terutama para bujangan yang baru lulus sekolah dan langsung bekerja.
Yang merasa kekurangan (dan memang wajar kurang) adalah jika seorang karyawan yang sudah beberapa tahun bekerja, sudah menikah dan bahkan punya anak, tapi masih dibayar dengan gaji UMK.
Jadi sebaiknya yang diperbaiki bukanlah UMK, tapi sistem kenaikan gaji/karir, agar jangan sampai ada karyawan yang sudah beberapa tahun kerja tapi masih digaji standar UMK sama dengan pekerja baru. Apalagi jika statusnya adalah kontrak dan outsourcing yang tidak pernah diangkat karyawan tetap agar perusahaan bisa tetap punya alasan untuk menggaji dengan UMK.

4. Hampir setiap kenaikan BBM saya selalu mendapatkan pertanyaan dari wartawan bagaimana menyiasati kenaikan biaya hidup. Dan sekarang juga bukan cuma dari wartawan tapi di media sosial. Tapi tahun lalu ketika UMK naik tinggi sampai lebih dari 40% kok saya tidak ditanya ya bagaimana memanfaatkan kenaikan gaji?
Jangan cuma mengeluh saat biaya hidup naik tapi diam saja saat gaji naik dong 😉

3 thoughts on “Gaji UMK vs Kenaikan BBM

  1. Hendi Setiyanto

    Akhirnya punya kesempatan untuk mengunjungi blog & membaca beberapa tulisan pak Ahmad Gozali,sebelumnya cuma baca-baca dari akun twitter bapak,sangat menarik memang bahasan tentang UMK,apalagi bila dibahas dalam sudut pandang yang berbeda pula,pastinya hasilnya pun akan berbeda pula. Pasti banyak sekali diluar sana yang terkena dampak naiknya BBM apalagi bagi pekerja/buruh yang sudah berkeluarga pasti harus mengencangkan ikat pinggang jika ingin dapur tetap mengepul. Tapi setidaknya tepat sekali uraian bapak diatas untuk dipraktekan. Salam kenal pak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'