Gozali's Blog

Jangan Dulu Tua Sebelum Kaya

 

Risiko menjadi tua sebelum kaya adalah menurunnya standar biaya hidup di masa pensiun. Masa yang seharusnya dinikmati dengan santai setelah puluhan tahun bekerja. Karena dana pensiun tak cukup memadai, standar hidup pun dipangkas dengan drastis.

Untuk bisa menikmati gaya hidup yang sama sebelum pensiun, idealnya adalah memiliki aset investasi sebesar 200x gaji sebelum pensiun. Kalau di bawah itu, maka harus berkompromi dengan standar gaya hidup, kompromi dengan risiko atau kompromi dengan aktivitas.

Kompromi standar biaya hidup artinya memangkas biaya hidup selama masa pensiun. Bagi mereka yang pensiun kembali ke kampung halaman, hal ini mungkin masih masuk akal. Tapi bagi yang pensiun di kota besar, atau memang tidak punya kampung halaman, menurukan standar biaya hidup di kota yang sama akan cukup menantang. Apalagi jika di usia pensiun ternyata masih memiliki tanggungan anak yang belum mandiri.

Jika kompromi standar biaya hidup terlalu sulit dilakukan, maka bisa juga kompromi dengan risiko. Artinya di masa pensiun tetap harus aktif mengelola aset investasi agar bisa memberikan keuntungan memadai untuk biaya hidup. Dengan kondisi jantung yang mungkin tak lagi seperti dulu, tak ada lagi penghasilan lain jika merugi, tentu saja hal ini juga tidak bijak untuk dilakukan.

Kompromi ketiga yang bisa dilakukan adalah dengan kompromi aktivitas. Judulnya saja masuk usia pensiun, tapi karena tak cukup dana untuk dinikmati, ya terpaksa kerja lagi. Entah dengan mengajar, jadi konsultan, atau berbisnis lainnya. Tidak salah memang bekerja lagi, tapi rasanya tak pantas disebut pensiun kalau masih perlu bekerja demi mendapatkan penghasilan.

Padahal, pensiun itu ya enaknya udah kaya. Mau ngapain aja sesuai hobinya bisa. Ibadah tenang, kerja sosial secara sukarela. Tak perlu lagi memikirkan risiko investasi, deposito atau sukuk saja yang risiko rendah.

Kalau belum kaya bagaimana? Ya jangan tua dulu sebelum kaya.

Tua kan nggak bisa dilawan, usia pasti bertambah terus.

Lucunya, ada yang bilang kaya atau miskin itu juga takdir yang tak bisa diubah. Kalau begitu saya tanya balik, mana yang lebih bisa diubah: usia atau kekayaan?

Memang terlihat sulit untuk mengubah kondisi keuangan menjadi kaya, tapi percayalah pasti lebih sulit lagi bahkan tidak mungkin untuk menunda usia tua. Jadi daripada berdebat perlu atau tidaknya menjadi kaya, lebih baik jadi kaya saja sebelum tua.

One thought on “Jangan Dulu Tua Sebelum Kaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'