Gozali's Blog

Laborghini Abdurrahman bin ‘Auf

 

Beberapa hari terakhir kita disuguhi dengan berita tentang mobil mewah bodong yang tidak dilengkapi dengan surat-surat kelaikan jalan dan kepemilikan yang sah. Diawali dengan anggota DPRD yang membawa Lamborghini saat pelantikan. Saat ditanya wartawan, ia mengaku kalau itu adalah pinjaman dan belum sempat dikembalikan setelah melakukan touring. Tokoh masyarakat seperti itu tentu mendapat sorotan yang lebih dari insan media sehingga ditelusuri pula nomor plat polisinya yang ternyata palsu.

Tak lama berselang, sebuah mobil mewah terjaring razia saat mereka sedang adu balap di tengah kota Jakarta. Dan kebetulan juga merk mobilnya pun sama yaitu sebuah Lamborghini. Uniknya, kejadiannya pun mirip dimana sang pengemudi mengaku bahwa mobil itu bukan miliknya dan ia pun tidak bisa menunjukkan surat-surat yang sah atas mobil tersebut.

Alhasil, mobil mewah itu terpaksa dikandangkan di kantor Polisi. Dan ternyata, wartawan menemukan ada dua mobil yang juga bermerk Lamborghini yang terpakrir di kantor Polisi. Besar kemungkinan, kedua mobil tersebut juga dikandangkan karena tidak memiliki kelengkapan surat yang sah.

Seorang pengacara ternama yang juga penggemar dan pemilik beberapa mobil mewah menilai bahwa ketidaklengkapan surat-surat mobil mewah tersebut mungkin dilakukan untuk menghindari kewajiban membayar pajak. Bukan cuma ratusan juta, pajaknya bisa sampai milyaran untuk mobil tertentu terang sang pengacara.

Seorang follower saya di twitter berkomentar fenomena mobil mewah bodong ini seperti istilah “bisa beli kuda, tapi tak bisa beli talinya”. Mobilnya terbeli, tapi pajaknya tidak. Membaca istilah ini, saya pun langsung teringat pada kisah Abdurrahman bin ‘Auf RA, sahabat Rasulullah SAW yang paling kaya di zamannya.

Saat hijrah dari Mekkah ke Madinah, Abdurrahman bin ‘Auf hanya membawa apa yang melekat di badannya. Tawaran untuk memilih harta yang ia suka dari saudara Anshor Madinah pun ia tolak dengan halus, dan hanya minta ditunjuki dimana pasar.

Masuk pasar tanpa modal, ia hanya mengandalkan kemampuan dan kelihaiannya dalam berdagang. Ia jualkan unta pedagang di pasar pada orang lain, tanpa mengambil untung. Sebagai pedagang baru, tentu tak akan laku jika menjual lebih tinggi dari harga pasar. Maka ia menjual untanya dengan harga yang sama, tapi tanpa talinya.

Abdurrahman bin Auf RA mengawali perdagangannya di Madinah dengan menjual unta, tanpa modal, dan mendapatkan keuntungan berupa tali kekang unta tersebut. Sejarah kemudian mencatat ia menjadi orang paling kaya di zamannya, dan sangat dermawan sampai pernah seluruh unta dan barang bawaannya yang baru masuk Madinah disedekahkan semua.

Kita punya dua contoh yang bertolak belakang, orang kaya yang bisa beli kuda tapi tak mau beli talinya. Atau seorang dermawan yang menjual unta dan dapat untung talinya, lalu ia menjadi kaya raya setelahnya. Silakan pilih…

2 thoughts on “Laborghini Abdurrahman bin ‘Auf

  1. Nindya Hafsari

    Good article pak..

    Pilih Abdurrahman bin ‘Auf nya aja deh pak.. 😀

    jd itu judulnya Lambhorgini Abdurrahman bin ‘Auf yaa pak, atau Lambhorgini Abdurrahman bin ‘Auf ? *eh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'