Gozali's Blog

Memandang Ekonomi Indonesia & ASEAN dari Kacamata HSBC

 

Dengan diberlakukannya perjanjian perdagangan di wilayah ASEAN atau MEA, maka sangat penting untuk memahami bagaimana kondisi ekonomi Indonesia dan negara ASEAN lainnya. Saya menemukan artikel menarik yang dirilis oleh HSBC di http://www.hsbc.com/news-and-insight/2015/southeast-asias-new-consumers bahwa dalam 5 tahun ke depan, atau di tahun 2020 nanti, setengah dari populasi di negara-negara ASEAN berada di usia di bawah 30 tahun.

Ini artinya, lebih dari setengah dari penduduk ASEAN berada pada usia produktif. Di satu sisi, ini adalah peluang besar dimana tersedia banyak tenaga produktif, dan angka ketergantungan penduduk yang tidak produktif menjadi sangat kecil. Tapi di sisi lain ada juga tantangan yaitu apakah cukup tersedia lapangan kerja bagi angkatan kerja yang sangat besar ini. Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN juga akan mengalami bonus demografi yang sama, bahkan 70% dari penduduk Indonesia di tahun 2020 – 2030 akan berada pada usia produktif 15 – 64 tahun.

Ekonomi ASEAN yang dulunya mengandalkan ekspor dan manufaktur, nantinya akan menjadi lebih banyak didorong oleh konsumsi karena meningkatnya kelas menengah di ASEAN. Walaupun populasi ASEAN 600 juta orang, atau hanya setengahnya dari populasi negara India, namun PDB Wilayah ASEAN lebih besar dari India dan terus bertumbuh rata-rata 6% per tahun sampai 2020 dengan total PDB mencapai 4,7 Trilyun USD.

Dalam 5 tahun ke depan, setengah dari kelas menengah di dunia tinggal di wilayah Asia dan akan menyumbang tambahan angka konsumsi senilai 2 trilyun USD. Peningkatan kelas menengah ini akan memegang peran besar dalam peningkatan ekonomi ASEAN dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan bertumbuhnya daya beli kalangan menengah, maka meningkat pula dorongan untuk konsumsi, utamanya dalam bentuk properti, kendaraan, pendidikan dan kesehatan. Dan seiring dengan bertambahnya kelompok usia ini, dibutuhkan pula dana pensiun, dana kesehatan, perlindugan asuransi, ditengah masih lemahnya sistem jaminan sosial dari pemerintah.

Yang menarik adalah pola konsumsi yang berbeda di beberapa negara. Di negara yang masih berkembang, kenaikan penghasilan akan dialokasikan lebih banyak untuk peningkatan standar hidup, sementara yang berada di negara yang sudah maju akan meningkatkan pengeluaran untuk konsumsi dan investasi.

Contohnya di Singapura, Malaysia dan Thailand yang sudah lebih maju, peningkatan penghasilan akan lebih banyak dialokasikan untuk investasi dan konsumsi. Beda halnya dengan Indonesia dan Filipina yang akan lebih banyak alokasikan pertumbuhan penghasilan untuk membeli kendaraan, perlengkapan rumah tangga, dan sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidup. Yang menarik adalah Vietnam yang ternyata memiliki tingkat kepemilikan kartu kredit yang paling tinggi diantara negara ASEAN lainnya dan kelas menengah di sana baru mulai mengembangkan selera mereka terhadap barang-barang mewah.

Kekayaan di ASEAN berkembang bahkan lebih cepat dibandingkan dengan Tiongkok dalam 5 tahun ke depan. Hal ini akan mendorong perkembangan di pasar keuangan dan punya potensi untuk mengubah pilihan saving dan investasi.

ASEAN adalah salah satu wilayah dengan saving rate paling tinggi dunia, tapi sayangnya, saat ini aset finansial lebih banyak ditempatkan dalam bentuk cash dan di beberapa negara terkonsentrasi pada investasi saham. Studi menunjukkan bahwa penciptaan kekayaan baru akan mengubah pola investasi. Ini artinya ASEAN akan mengalami juga perubahan dari yang tadinya terkonsentrasi pada cash atau saham, menjadi lebih terdiversifikasi.

Sementara negara-negara ASEAN yang akan menjadi mitra perdagangan penting bagi Indonesia adalah Singapura dan Malaysia. Menurut analisa HSBC yang disampaikan di https://globalconnections.hsbc.com/global/en/tools-data/trade-forecasts/id negara sasaran terbesar ekspor Indonesia dalam 15 tahun ke depan adalah Tiongkok, India, Jepang, Singapuran dan Malaysia. Dan masih menurut analisa yang sama dari para analis di HSBC, impor Indonesia pun akan banyak berasal dari Singapura sebagai negara kedua setelah Cina, dan Malaysia di posisi ke empat di atas Jepang dan di bawah Korea.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'