Gozali's Blog

Please, Jangan Ada Bunga di Antara Kita

Salah satu yang membedakan antara keuangan konvensional dan keuangan syariah adalah ketiadaan transaksi riba dalam keuangan syariah. Transaksi riba yang paling banyak terjadi adalah membungakan uang. Menganggap uang bisa berkembang dengan sendirinya seiring waktu dengan cara dipinjamkan kepada orang lain.

Seseorang yang punya modal besar bisa membungakan uang, dan secara otomatis uangnya bertambah, dan terus bertambah seiring waktu tanpa harus melakukan apapun, dan tanpa menanggung risiko apapun. Sedangkan pengguna modal tersebut, harus menanggung risiko kerugian jika dagangannya tidak laku. Pemodal tak mau tahu, yang penting uangnya terus berbunga. Dampaknya adalah si kaya akan bertambah kaya apapun yang terjadi dengan ekonomi. Dan yang miskin akan bertambah miskin karena harus membayar bunga walaupun bisnsinya merugi.

Hal ini tidak sesuai dengan prinsip keadilan dimana seharusnya semua orang punya kesempatan yang sama untuk berusaha mensejahterakan dirinya. Dengan sistem bunga, penguasa ekonomi adalah penguasa modal. Bukan yang paling kreatif, yang paling kerja keras, atau yang paling lihai menjual.

Selain itu, sistem bunga juga membuat seseorang menjadi malas. Orang yang punya banyak uang, tidak perlu lagi bekerja. Dia diam saja pun keuntungan yang pasti sudah bisa diperolehnya. Mental mau untung sendiri tapi tak mau ikut tanggung risiko ini saya sebut dengan mental deposan. Mental orang-orang yang hanya mau untung besar, pasti dapat dan tidak tanggung risiko merugi.

Bagaimana solusi yang diberikan oleh sistem keuangan syariah? Sistem keuangan syariah membedakan antara transaksi sosial dan transaksi bisnis. Meminjamkan uang adalah transaksi sosial, karena biasanya yang meminjam uang tentulah hanya orang yang kepepet perlu uang dan tujuannya pun tentu untuk survival saja. Misalnya, pinjam uang untuk berobat, pinjam uang untuk makan dan sejenisnya. Maka untuk pinjam uang, harus dikembalikan dengan jumlah yang sama. Tidak boleh mengambil keuntungan dari pinjamkan uang.

Ekonomi syariah mendorong semua orang untuk berbisnis, minimal secara pasif dengan uangnya saja tidak dengan tenaga dan waktunya. Yang punya modal uang tapi tak punya keahlian untuk bisnis didorong untuk bersinergi dengan yang punya keahlian tapi tak punya modal. Maka untuk yang perlu tambahan modal bisnisnya, pinjam uang bukanlah solusinya. Tapi mengajak orang lain untuk berbisnis dengan cara berkongsi, jual-beli, sewa-menyewa, dan lain sebagainya.

Jika yang diperlukan adalah modal uang segar untuk membayar gaji dan biaya operasional lainnya. Atau perlu tambahan modal dalam jangka panjang. Maka solusi paling benar adalah dengan cara transaksi bagi hasil. Pemodal menempatkan dana, pengusaha mengolahnya dalam bisnis. Untung dibagi bersama, rugi dibagi dengan batasan tertentu.

Jika perlu modal tambahan untuk pengadaan barang tertentu. Misalnya perlu kendaraan, mesin produksi, bahan baku, dan lain-lain yang bersifat nyata jangan pinjam uang. Karena pinjam uang bukan transaksi bisnis. Solusi terbaik adalah dengan transaksi jual-beli. Minta pemodal untuk membelikan barang tersebut di supplier, lalu kita membeli dari si pemodal dengan harga cicilan yang disepakati. Mirip dengan pinjam uang lalu bayar cicilan, tapi dengan jual-beli kita mengajak si pemodal untuk berbisnis, bukan menjadi “petani bunga” saja.

Jika perlu tambahan modal untuk sewa gedung kantor yang perlu dibayar sekaligus di muka. Bisa juga dengan cara meminta pemodal untuk menyewakan gedung tersebut dari pemiliknya. Dan kita menyewa dari si pemodal dengan cicilan per bulan agar lebih ringan. Jika pinjam uang dengan bunga, pemilik uang tidak berbisnis apa-apa. Tapi dengan cara sewa-menyewa, pemilik uang pun ikut berbisnis. Itu yang diinginkan ekonomi syariah. Semua orang bisnis, bukan menjadi “petani bunga” saja.

Dengan membelikan barang atau menyewakan manfaat, maka si pemodal ikut berbisnis dan menanggung kerugian. Begitu juga dengan tanamkan modal untuk bagi hasil, si pemodal ikut memikirkan bagaimana agar bisnisya menjadi maju karena jika bisnisnya merugi ia juga akan ikut rugi. Keadilan inilah yang diharapkan. Pemodal tak Cuma ongkang-ongkang kaki, tapi minimal mendoakan partnernya agar bisnisnya menguntungkan.

Please, jangan ada bunga di antara kita. Mari kita berbisnis saja.

 

Salam Berkah,

Ahmad Gozali

@ahmadgozali

One thought on “Please, Jangan Ada Bunga di Antara Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'